Sabtu, Desember 01, 2018

Wonderful Indonesia yang Tersembunyi


Jadwal road trip Jakarta - Pagar Alam (Sumatera Selatan) dan sekitarnya bertepatan dengan Hari Kemerdekaaan RI ke-73.
Walaupun konvoinya hanya 2 kendaraan, tetap mempunyai kesan tersendiri karena iitinerary-nya lengkap, ada wisata alam, kuliner dan tanpa sengaja jadi memahami budaya setempat 

17-08-2018
Jam 2 pagi tiba di Pelabuhan Merak (Banten). Ternyata jumlah kendaraan membludak karena long weekend. Kami antre sampai jam 6 pagi.



Alhamdulillah akhirnya dapat menyebrangi Selat Sunda dan merapat di Pelabuhan Bakauheni (Lampung) jam 8.30 pagi. 



Kami sempatkan makan siang di Tanjung Karang lalu melanjutkan perjalanan ke Lahat untuk menginap di hotel yang sudah dipesan secara online.


Gapura Selamat Datang di Kota Bandar Lampung
(dokumentasi lama, 24-12-16) 

Untuk menghemat waktu kami berhenti hanya untuk sholat dan ke SPBU. Untungnya sudah siap bawa  perbekalan makanan dari Jakarta.

Senja di sekitar Kecamatan Way Tuba, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung (17-08-18)

Walaupun selama perjalanan panjang ini sempat menemui beberapa jalan yang rusak, Alhamdulillah jam 11 malam sampai juga di Hotel Grand Zuri Lahat.


18-08-2018
Pagi ini banyak pilihan makanan baik western maupun tradisional. Walaupun hotelnya sudah bernuansa modern tetapi masih menyajikan menu tradisional. Salut 🖖.


Pilihan makanan dan minuman tradisional untuk sarapan. Kami sempat diminta foto bersama manajemen hotel (18-08-18).

Topik pembicaraan saat sarapan pagi ini tentang durian Gumay Ulu. Atas rekomendasi pihak hotel, disarankan untuk mencoba juga durian Tanjung Sakti. Jadi tertarik juga melewati Tanjung Sakti untuk rute pulang ke Jakarta besok.

Selesai check out, konvoi lagi menuju Pagar Alam melewati rute Gumay Ulu. Tapi sayangnya tidak satupun penjual durian yang kami jumpai. Namun rasa kecewa terbayar dengan menyaksikan pemandangan yang indah dan masih alami. Dari sini kami melanjutkan perjalanan ke Pagar Alam.


Rute Lahat - Gumay Ulu - Pagar Alam (18-08-18)


Rute Lahat - Gumay Ulu - Pagar Alam (18-08-18)

Perkebunan Teh Gunung Dempo (3159 mdpl), Pagar Alam

Pagar Alam dikenal karena perkebunan tehnya yang sangat luas dan indah yang berada di kaki Gunung Dempo. Kondisi jalannya bagus walau sempit dan berkelok. Kendaraan dapat naik hanya sampai ketinggian di area yang bertuliskan "PagarAlam". Saat itu cuaca sedang mendung dan gerimis. Puncak gunung pun terlihat berkabut. Bila ingin mendaki sampai ke puncak, harus berjalan kaki +/- selama 6 jam.


Perkebunan Teh Gunung Dempo (3159 mdpl), Pagar Alam (18-08-18)

Tiba di area parkir ada beberapa warung sederhana. Kami mampir untuk sekedar melepas lelah. Sekalian mencoba kue "gunjing" (lafal: gonjeng) yang bentuk dan rasanya mirip pukis. Setelah puas berfoto, bersiap turun ke kota untuk mencari makanan yang lebih berat.

Kue "gunjing" di salah satu warung di perkebunan teh Gunung Dempo (18-08-18).

Pemandangan kota Pagar Alam yang tertutup awan mendung dan gerimis dilihat dari perkebunan teh Gunung Dempo (18-08-18)

Resto 88, Simpang Manak

Taraaa ... sekarang waktunya makan berat yang tertunda. 
Resto 88 menjadi pilihan hasil dari googling, rating dan rekomendasi pengunjung.
Pilihan menunya cukup banyak. Kami pilih ikan gurame asam manis, pindang ikan patin dan bebek tauco cabe ijo. Ternyata porsinya besar dan mayoritas disajikan dengan nuansa tomat yang melimpah. Untuk rasa, cocok untuk yang suka rasa asam dan pedas.
Selesai makan, kami bertanya ke pemilik restoran dimana bisa membeli kopi bubuk asli Pagar Alam. Ternyata toko oleh-olehnya persis di sebelah restoran.


Bagian dalam Resto 88, Simpang Manak (18-08-18)
Menu pilihan untuk makan sore di Resto 88, Simpang Manak (18-08-18)

Oleh-oleh Kopi dan Teh Pagar Alam

Sepintas toko Rizky Kurnia terlihat seperti bukan toko oleh-oleh. Ternyata di sini menjual kopi bubuk, berbagai macam teh, dll.

Toko Rizky Kurnia, Pagar Alam (18-08-18).

Kopi bubuk "EKA", toko Rizky Kurnia (18-08-18)

Penjelasan pemilik toko, kopi merk "EKA" yang mereka jual adalah produksi sendiri dan juga berasal dari kebun kopi sendiri.
Kopi yang dipanen hanya yang sudah berwarna merah, dijemur di atas terpal (tidak menyentuh tanah langsung), sehingga bubuk kopi bersih tidak bercampur tanah (tidak ada yang mengambang saat diseduh). Kopi di roasted pakai arang dan digiling sendiri.
Harga untuk kopi kemasan 250 gr Rp. 10.000,-.

Mesin penggiling kopi di Toko Rizky Kurnia (18-08-18)

Untuk teh, kami dipilihkan teh hitam CTC Bukit Dingin Gunung Dempo. Teh ini merupakan teh seduh tanpa disaring. Harga untuk teh kemasan 50 gr sekitar Rp 7 - 8 ribuan.Tanpa terasa waktu sudah mendekati Maghrib, kami sudahi explore hari ini.

Teh CTC Bukit Dingin Gunung Dempo


Durian Tembago Gumay Ulu

Menuju arah ke penginapan, tiba-tiba kami melihat satu-satunya penjual durian di mobil pick up. Ternyata duriannya dari Gumay Ulu (menurut Pak Arul sang penjual durian).

Wah sepertinya tadi pagi waktu kami melewati Gumay Ulu seluruh duriannya sudah keburu diborong oleh Pak Arul ya 😂Tapi menurut beliau memang panen durian lagi menurun.

Kami mencoba sebagian di tempat dan membawa pulang ke Jakarta beberapa buah yang masih utuh. Harga durian mulai dari Rp. 20.000 per buah.

Durian tembago dari Gumay Ulu (18-08-18)

Setelah itu kami langsung menuju Besh Dempo Flower Hotel (DFH) untuk check in. Pemesanan sudah dilakukan secara online saat di Jakarta. Lokasi hotel berada di kaki perkebunan teh yang kami datangi tadi. 

Baik hotel di Lahat  maupun di Pagar Alam menyarankan pemesanan online sebaiknya lewat website mereka, karena harganya lebih murah.

19-08-2018
Pagi hari dimanjakan dengan tampilan sunrise cantik dari pegunungan Bukit Barisan dan dari sebelah barat terlihat Gunung Dempo yang berkabut tipis.

Sunrise Pegunungan Bukit Barisan dan view Gunung Dempo dari Besh DFH (Dempo Flower Hotel) (19-08-18)

Sambil sarapan, kami diperdengarkan permainan gitar tradisional Basemah yang bentuknya unik oleh Bapak Arman Idris. Beliau tokoh seniman Basemah (Pagar Alam) yang menerima beberapa penghargaan berkat dedikasinya terhadap budaya Basemah (silahkan googling).
Selesai sarapan dan check out, kami meninggalkan Pagar Alam menuju Tanjung Sakti.

Bapak Arman Idris, Seniman Basemah (19-08-18)

Tanjung Sakti

Sampai daerah Tanjung Sakti sekitar jam 9 pagi. Kebetulan melihat penjual durian jatohan (matang pohon). Karena penjualnya sekaligus pemilik kebun durian, jadi duriannya dijual per buah "hanya" Rp. 15.000,-.
Gembira dong. Murah sekali dibandingkan harga di Jakarta.
Setelah mencoba beberapa, kami bawa yang masih utuh sekedarnya saja. Kalo kebanyakan takut pingsan juga sama bau durian .

Durian Tanjung Sakti (19-08-18)

Selesai mengepak durian, melanjutkan perjalanan lagi. Melewati jalur Lintas Barat Sumatera ini pemandangannya indah dan lengkap, ada gunung, hutan dan pantai.


Jalur Lintas Barat Sumatera (19-08-18)

Saking sepinya monyet pun pede duduk santai di tengah jalan 😁Sebaiknya sih konvoi minimal 2 kendaraan dan tidak jalan di malam hari, karena rumah penduduk saling berjauhan.
Selain itu yang harus diwaspadai adalah: 
Jalan yang longsor. Saat itu sedang tahap perbaikan.
Kondisi jalan yang naik turun gunung, berkelok tajam, kadang menyempit.
Jalan yang sempat terputus dan masih dalam perbaikan namun sudah bisa dilewati.

Rumah penduduk yang kami lewati di jalur lintas barat Sumatera (19-08-18)
Monyet di tengah jalan di jalur lintas barat Sumatera (19-08-18)
Pemandangan laut di jalur lintas barat Sumatera (19-08-18)
Kondisi jalan yang sempat terputus dan masih dalam perbaikan (lokasi setelah Krui, Lampung) (19-08-18)

Sate Ikan Tuhuk (Blue Marlin).

Rencananya makan siang di daerah Krui, Lampung untuk mencoba sate ikan tuhuk. Namun saat tiba sudah agak kesorean. Rumah Makan Pondok Kuring menjadi pilihan hasil dari browsing, rating dan rekomendasi pengunjung. Walaupun terlihat sederhana namun untuk urusan rasa tidaklah sederhana. Pernah juga loh diulas di harian KOMPAS 04-07-2015.

Sate ikan tuhuk di RM Pondok Kuring, Krui (19-08-18). (Foto blue marlin hidup dari google)

Saatnya siap-siap kembali ke Jakarta. Alhamdulillah road trip kali ini diberi kelancaran dan kesehatan oleh Allah SWT. Kami tiba di Pelabuhan Bakauheni jam 12 malam tanpa antre dan jam 4 pagi sudah tiba di rumah.
Selain itu, juga berkat perencanaan yang matang dengan mencari banyak Informasi lewat media sosial.

Ayo teman-teman, manfaatkan media sosial untuk mengenalkan daerahmu yang selama ini menjadi "Wonderful Indonesia" yang tersembunyi.
Caranya dengan berpartisipasi di “Wonderful Indonesia” Blog Competitions 2018. 
Untuk ketentuannya klik disini 👇ya 

Jangan lupa, deadline-nya sampai tanggal 4 Desember 2018.


















Jumat, November 23, 2018

Long Weekend 5 Hari Kemana? Kami Road Trip Jakarta ➡ Pekalongan ➡ Dieng ➡ Salatiga ➡ Kuningan ➡ Bandung ➡ Jakarta


Jauh sebelum long weekend, sudah ada beberapa catatan agenda di kalender:

Jum'at 16 November 2018, PakSu baru landing di Jakarta setelah dines dari luar kota.

Sabtu 17 November 2018, undangan syukuran ulang tahun ke-2 komunitas Seraya Motor Road Trip (komunitas diskusi automotive, yang beberapa anggotanya hobby nyetir jarak jauh). Lokasi syukuran di Dieng, Jawa Tengah.

Selasa 20 November 2018, hari libur nasional (Maulid Nabi Muhammad SAW), bertepatan dengan undangan pernikahan Karina (salah satu kerabat PakSu) di Bandung, Jawa Barat.

Nah bingunglah untuk ngatur jadwal gimana caranya agar semua undangan bisa kami hadiri, dan gimana baiknya ngatur jadwal Ibu & Bapak sampe di Bandung untuk hadir di nikahan Karina

Setelah sharing ke keluarga mengenai garis besar jadwal yang kami punya, akhirnya dibikinlah itinerary seperti ini:

Jum'at 16-Nov-18: Jakarta - Pekalongan.
Sabtu 17-Nov-18: Pekalongan - Dieng.
Minggu 18-Nov-18: Dieng - Salatiga.
Senin 19-Nov-18: Salatiga - Kuningan - Bandung.
Selasa 20-Nov-18: Bandung - Jakarta.

Jum'at 16-Nov-18
PakSu baru landing di Jakarta setelah dines dari luar kota. Tiba di rumah sekitar jam 7 malam. Selesai Isya, sekitar jam 8 malam menuju Pekalongan untuk bermalam di sana.

Sengaja nggak ikut rombongan temen-temen Seraya Motor Road Trip (SMRT) yang rencana baru kumpul di meeting point besok jam 3 pagi. Tujuan pisah rombongan supaya PakSu jaga stamina dan cukup istirahat. Karena nanti sepulang dari Bandung, PakSu harus balik dines lagi ke luar kota.

Kami ngalamin kemacetan "hanya" saat keluar rumah dan di pintu keluar tol Pemalang. Sisanya perjalanan lancar jaya. Tiba di Pekalongan jam 2 pagi (Sabtu 17-Nov-18). Jadi total perjalanan kurang lebih 6 jam (sudah termasuk bernti ke toilet dan isi bahan bakar).

Sabtu 17-Nov-18

Hotel Namira Syariah Pekalongan (171118)

Jam 2 pagi tiba di Hotel Namira Syariah Pekalongan. Alesan prioritas milih hotel syariah kalo di luar kota/kota kecil, karna pernah ngalamin pengalaman buruk. Pernah masuk hotel yang banyak "ayamnya" yang bikin bete & kapok 🙈.

Ini kali ke-2 nginep di Hotel Namira Syariah Pekalongan. Selalu check-in menjelang dini hari. Kali ini karna nemuin kemacetan di Jakarta dan pas mau keluar tol Pemalang.

Dapet harga cakep lewat @traveloka < Rp. 300 ribu (tanpa breakfast). Kalo mau breakfast untuk dewasa nambah Rp. 40 ribu/orang. Rate termurah dari pihak hotel type deluxe Rp.420 ribu (include tax and services).

Sayangnya kami nggak cek lagi tipe tempat tidur saat booking. Kaget aja dapet kamar yang twin bed 😂. Tapi yo piye meneh udah jam 2 subuh yang penting bisa tidur.

Review tipis ya untuk Hotel Namira Syariah Pekalongan ini:

PLUS:
*Hotel mudah dicari, nggak blusukan.
*Azan Subuh & ceramah pagi berkumandang melalui speaker kamar.
*Tersedia perlengkapan sholat & Al-Qur'an
*Tayangan TV live Mekah.
*Sertifikat halal restaurant.
*Hadist2 di tempel di lift & koridor.
*Kamar bersih. Masih seperti dulu (hotel berdiri sejak 14 Juni 2014).
*Kamar mandi bersih, tersedia handuk, shampoo,  body wash, dental kit, sisir, cotton bud, shower cup, disposal bag.

MINUS
*lahan parkir sempit di basement, sisanya parkir di halaman hotel (kunci harus titip receptionist untuk vallet).
*suara pintu tetangga kedengeran.
*Ada bocoran dikit di plafond kamar (kamar 614)

Alamat: Jl. Dr. Cipto No 70, Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia.
☎ (+62-285) 4460888, (+62-82220812888)
📧 reservation@namira-hotel.com.
🌐 www.namirasyariah.com
IG @namirasyariahpekalongan

Pagi hari kami check out jam 8 pagi, lanjut perjalanan ke Dieng melalui Batang.
Batang - Dieng rute tempuh +/- 65 km. Kondisi jalan mayoritas bagus, kadang melewati hutan, lebih banyak nanjak. Pastikan kondisi kendaraan prima. Apalagi kalo nggak sama rombongan seperti kami

Pemandangan rute Batang - Dieng.
Indah. Namun semakin banyak lahan yang ditanami dengan teknik sengkedan/terasering (171118)

Pemandangan rute Batang - Dieng (171118)

Masih pagi menjelang siang jadinya mampir dulu di Gallery Kopi Omahan - Spesial Mie Ongklok & Kopi Dieng.

Gallery Kopi Omahan - Spesial Mie Ongklok &
Kopi Dieng (171118)

Mie Ongklok adalah mie rebus kuah khas Wonosobo, Jawa Tengah. Mie direbus bersama sayuran (kol), tahu kecil2, kemudian disiram kuah kental (dari kanji) dengan bumbu khusus yang sering di sebut “loh”. (Ternyata pake ebi juga).

Berikut beberapa menu & referensi harga fyi:
1 Teh Manis Rp. 5K
1 Tempe Kemul Rp. 5K
1 Mie Ongklok Rp. 10K (ternyata ada ebi-nya)
1 Natural Arabica V60 Rp. 15K
1 Full Wash Arabica 100gr Rp. 30K
3 Natural Arabica 100gr Rp. 120K (oleh2 utk yg beruntung).

PLUS:
*Overall semua orderan kami enak.
*View-nya cakep
*Toilet bersih
*Fasilitas Musholla
*Mas-nya ramah semua walo ada yg pake anting gede (piercing).

SARAN:
*Air wudhu & washtafel mati. Tolong benerin dong hehe. Biar kita nggak cuci tangan & wudhu di toilet.
*Mushola tolong dijaga kebersihannya
*Cuma saran aja sih lebih diperhatiin kebersihannya & kulit kursi yg udah sobek keliatan busanya diganti hehe lagee.

Alamat: Jl. Dieng KM. 18 Wonosobo
📱(+62-82227396393 / (+62-81327343355)

IG : @kopi_omahan_wonosobo

View dari pintu masuk @kopi_omahan_wonosobo

Setelah cukup istirahat sejenak di @kopi_omahan_wonosobo, mulai eksplore yang terdekat dulu.

1. Gardu Pandang Tieng (GPT). 
Berada di ketinggian 1789 MDPL. Tepat berada di atas Desa Tieng. Di sini merupakan lokasi alternatif untuk menyaksikan golden sunrise bila tidak sempat naik ke bukit Sikunir.

Sayangnya parkiran kecil nggak muat banyak kendaraan. Kebersihan juga kurang.

Gardu Pandang Tieng 1789 MDPL (171118)

2. Batu Ratapan Angin/ Batu Pandang Dieng / Batu Pandang Telaga Warna.



Memandang view Telaga Warna (kiri, hijau tua) & Telaga Pengilon (kanan, hijau muda) memang paling bagus dari Batu Ratapan Angin/ Batu Pandang Dieng / Batu Pandang Telaga Warna (171118)

Tiket masuk/orang Rp. 10 ribu. Untuk bisa dapetin view seperti ini naik ke gardu bayar lagi per orang Rp. 5 ribu (kapasitas maximum 10 orang).

Telaga Warna yang bersulfur tinggi menghasilkan warna yang indah saat matahari terik.

Sayangnya jembatan gantung merah putihnya udah ngga ada.

3. Sikunir dan Telaga Cebong
Sikunir (tempat untuk ngeliat golden sunrise), salah satu pilihan yang masuk dalam list kami.

Loh katanya ngunjungin tempat untuk liat sunrise. Tapi kok sore sih kesininya? Jangan2 itu terbersit oleh temen2 ya hehe.

Soalnya kami belum mutusin besok subuh mau ikutan apa engga bareng rombongan.
Karna untuk ngeliat sunrise di Sikunir ini kami harus ninggalin hotel jam 3 pagi.
Sementara kondisi badan lagi kurang fit. .
Yang kami liat jalan menuju Sikunir walaupun beraspal, tapi lumayan banyak tikungan sempit. Kalo papasan lumayan repot juga. Belum kebayang bagaimana kalo suasana dini hari besok bakalan banyak orang yang tumplek blek kesini.

Sempet ngeliat tulisan "Desa Sembungan. Desa tertinggi di Pulau Jawa". Penasaran berapa tingginya, dapet dari berbagai referensi yaitu 2306 MDPL.
Desa Sembungan ini masuk wilayah Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.

Lanjut perjalanan, sampailah di gerbang retribusi. Kami diminta membayar Rp. 10 ribu/orang. .
Saat tiba di parkiran Sikunir suasana sangat sepi. Banyak warung yang tutup.
Sempet mengabadikan plang bertuliskan "Selamat Datang di Lokasi Wisata Golden Sunrise Sikunir, Desa Sembungan, Kec. Kejajar, Kab. Wonosobo. .
PakSu nawarin mau jalan kaki ngga ke lokasi dimana orang2 besok liat sunrise-nya? Tapi jujur saya lagi mager (males gerak).


Akhirnya kami putbal (puter balik) melewati jalan yang kami lalui tadi. Nah pas putbal ini nggak berapa lama nengok ke kiri baru mudheng liat pemandangan yang indah ini. .
Tiba2 kabut dengan cepat menyelimuti Telaga Cebong. Sementara beberapa penduduk terlihat tetap tekun bekerja di atas lahan perkebunan. Tidak terganggu dengan turunnya kabut.



4. Kawasan Candi Arjuna
Orang-orang Hindu Jawa kuno membangun ratusan candi dan membuat Dieng Plateau sebagai tempat suci.

Candi-candi ini dibangun dari abad ke-8 hingga abad ke-13 oleh Dinasti Sanjaya.

Oleh masyarakat, candi-candi tersebut diberi nama sesuai karakter dalam legenda Hindu Jawa kuno yang memiliki kesamaan dengan kisah Hindu terkenal Mahabharata dan Ramayana.

Kawasan Komplek Candi Arjuna (171118)

Di dalam kawasan Komplek Candi Arjuna ini terdapat 5 candi yaitu: Candi Semar, Candi Arjuna, Candi Sembadra, Candi Puntadewa & Candi Srikandi.





Saat kemari hari Sabtu 171118, Candi Sembadra sedang dalam proses pemugaran dan rehabilitasi.

Saya perhatikan, bentuk Candi Puntadewa sekarang lebih mirip Candi Arjuna (beda dengan foto2 yg selama ini beredar.


Sumber: Wonosobo Tourism Guide & Map
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.

Jl. KH. Abdurrahman Wahid No 104 KM 02 Wonosobo. Kode Pos 56318

📧 disparbud.wonosobo@yahoo.com
☎ (+62-286)-321194
🌐 disparbud.wonosobokab.go.id
IG @disparbudwonosobo @disparbudwonosobo 


2nd Anniversary Seraya Motor Road Trip, 17-Nov-18, Dieng, Jawa Tengah
Sebenernya, kami ke  Dieng lagi kali ini dalam rangka ulang taun @serayamotor (SM) Roadtrip yang ke-2. Suami saya dengan ID SM @paidjho.sm termasuk yang antusias, nggak pernah ngerasa capek kalo diajak roadtrip walaupun baru landing dari luar kota. Kali ini kami berangkat nggak konvoi bareng dari Jakarta karna ada acara keluarga yg lumayan padet. Jadi ketemu temen2 langsung di Dieng

Photo from @SerayaMotor 's collection

50 lebih keluarga penggemar road trip bersama keluarga yang tergabung dalam komunitas Seraya Motor (komunitas diskusi automotive) datang tanpa memandang merk mobil, suku, agama dan ras. Semua berbaur, saling menghargai.

Komunitas tanpa iuran, nggak pake pengurus, cukup azas suka rela & gotong royong untuk setiap event, tidak kaku & mengikat yang penting seneng nyetir

Kali ini ada yang datang dari Bangka (mobil dikirim pake kapal ke Jakarta, road trip dimulai dari Jakarta - Dieng).

Ada yang datang dari Surabaya termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah dsk.

Saya pribadi terkesan setelah ikut road trip yang sudah tidak terhitung banyaknya.
Para istri merasa nyaman karna tidak ada rumpi, tidak ada rasa persaingan, mayoritas berpenampilan sederhana. Jadi saya nggak malu & nggak bingung kalo pake baju yang itu itu lagi tiap road trip wkwkwk.

Yang paling berkesan saat menemani suami sebagai team surveyor ke Bromo. Tancap gas terus dari Jakarta, hanya nginep di hotel Merah Putih alias SPBU haha.


Hotel Larasati, Dieng, Jawa Tengah

Karna peserta syukuran 2nd anniversary Seraya Motor Road Trip lebih dari 50 keluarga, nggak semua bisa nginep di hotel yang sama. Kami kebagian di Hotel Larasati Dieng

Hotel Larasati, Dieng (17 - 18 November 2018) 

Hotel ini jadi pusat kegiatan untuk acara ramah tamah/malam keakraban sekalian makan malam dengan menu kambing guling, soto dll juga macam2 makanan yang dibawa secara voulenteer oleh beberapa member.

Pagi hari kami mendapat sarapan nasi goreng, telur mata sapi & teh manis.

Karna hotel full kami booked, jadi dapet potongan discount.

Hotel Larasati Dieng lokasinys strategis, dekat dengan terminal Dieng, tepat di depan kantor Informasi Pariwisata. Objek wisata terdekat kompleks Candi Arjuna. Beberapa menit menuju Museum Kailasa, Telaga Warna, Dieng Plateau Theater, Kawah Sikidang.

Fasilitas Hotel:
20 kamar tamu, dengan 3 tipe kamar:
(Weekend/Long Weekend Price)
Standard Rp. 350K
Twin Rp. 400K
View Rp. 450K
Extra Bed Rp. 100K.

PLUS:
*Bersih. Kondisi bangunan masih baru.
*View pegunungan di teras/balkon belakang lantai 2.
*Ruang lobby, meeting room, tempat parkir +/- untuk 13 mobil.
*Dapur, Ruang makan
*Wi-Fi
*TV dalam kamar,  Buffet, Kaca Rias.
*Kamar mandi dalam, air panas untuk mandi.
*Ukuran kamar masih bisa tambah extra bed 1.
*Balkon kamar.
*Menu Makan malam kambing guling & sotonya enak.
*Rak Handuk, Handuk, Sikat Gigi, Sabun, Tissue Toilet
*Tersedia tempat sampah di depan kamar masing2 & di dalam toilet

SARAN:
*Kunci kamar tidak bisa dibuka dari dalam (Kamar B4, lantai 2). Mohon segera diperbaiki.
*Shower air panas semua. Jadi untuk mandi harus ditampung di ember besar, baru dicampur air dingin dari keran yang terpisah. Instalasi shower air panas & dingin 2in1 lebih efisien & hemat air.
*Washer toilet patah. Mohon segera diperbaiki.
"Tambahkan tempat tissue toilet.
*Tambahkan washtafel.
*Tambahkan kaca di kamar mandi.
*Tambahkan rak untuk menyimpan koper besar (untuk tamu jauh pasti membawa koper besar/banyak barang).

Alamat Hotel Larasati Dieng
Jalan Raya Dieng No.16, Dieng, Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah 56354.

Hotline:
Phone: +62818 0444 4333
WA: +62821 8944 4433 .

Semoga Seraya Motor Road Trip tetap kompak & solid. Aamiin.

Minggu, 18-Nov-18 (Dieng - Salatiga)
Check out dari hotel setelah Dzuhur.
Temen2 PakSu @paidjho.sm yang dari Dieng mau ke Semarang, Jogja, Surabaya sepakat konvoi melewati perkebunan Teh Tambi.

Awalnya ada yang keberatan karna jalan sudah terlihat rusak di belokan jalan menuju rute Perkebunan Teh Tambi (dari mulai gapura).

Salah satu view rute melewati Tambi - Muntung - Kaloran

Jalan yang jelek ternyata cuma sedikit, sebab mayoritas jalan mulus walau sempit (ribet kalo papasan, susah mau nyalip).

Ternyata jalan yang berkelok-kelok ini menyuguhkan pemandangan yang indah bikin berdecak kagum .
Akhirnya pada menyeringai lebar.

Beberapa saat kemudian rombongan mulai berpisah menuju rute pilihan masing-masing. Kami lanjut ke Salatiga untuk bermalam sekalian jemput Ibu dan Bapak.

Senin, 19-Nov-18 (Salatiga - Kuningan - Bandung).

Sejak jaman Belanda, kota Salatiga digunakan sebagai daerah peristirahatan karena kotanya yang berhawa sejuk. Pantesan ya orang2 dulu lebih mengenal Salatiga sebagai kota pensiunan 👴👵 .
Sampai saat ini masih banyak loh berdiri bangunan kuno peninggalan Belanda di Salatiga.

Sementara orang2 sekarang sering menyangka Salatiga adalah kota Solo 😁. Mungkin karena pengucapan yang mirip ya (Solotigo). Kota Salatiga ini sering dilewati orang2 yang melakukan perjalanan dari/ke Semarang - Solo.


Sebagai kota transit pariwisata, Salatiga (yang dipimpin seorang walikota), terletak di tengah-tengah kabupaten Semarang dan dikelilingi Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Pegunungan Gajah Mungkur dan Gunung Ungaran.

Makanan Khas/Oleh-oleh:
Sambal tumpang koyor, enting-enting gepuk, abon sapi, keripik paru, olahan singkong, bakpia, roti Wonder, wedang ronde, sate kambing (daerah Blotongan bila akan ke Semarang dari arah Salatiga).

Sambal Tumpang Koyor Bu Tri, Salatiga, Jawa Tengah

Koyor adalah urat sapi di bagian dengkul, pipi, mulut.

Sambal tumpang koyor (masakan bersantan) yang dimasak  pedas dengan tambahan tempe bosok (tempe "busuk" yang fermentasinya dibiarkan berlanjut, tapi bukan busuk betulan yaaa) dan juga tambahan tahu goreng yang sengaja agak dihancurkan.

Makan di warung Bu Tri ini warungnya bersih dengan bangunan permanen. Di sini juga menjual masakan mateng lainnya.

Warung Koyor Bu Tri
Jalan Kotabaru Raya, Blotongan, Sidorejo, Sidorejo Lor, Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah 50715

Sebagai kota pendidikan, Salatiga memiliki 4 perguruan tinggi, yaitu:
*Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga.
*Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW).
*Sekolah Tinggi Bahasa Asing Satya Wacana (STiBA SW)
*Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) AMA Salatiga.

Tegal

Wira-wiri ngelewatin kota Tegal (Jawa Tengah) udah 14 taun lebih. Tapi baru hampir setaun ini kenal dengan rumah makan "Mekar" (menu ikan bakar dan seafood)

Pertama kemari, waktu para solo road trip "go to east" tepat di taun baru 2018 mau pulang ke Jakarta (ada yang dari Lombok, Banyuwangi, Surabaya). Para suami janjian ngajak konvoi pulang bareng dengan meeting point sekitar daerah Batang

Setelah kumpul semua, lanjut  perjalanan. Menjelang jam makan siang kami tiba di Tegal. Ingin cari rumah makan yang banyak dikunjungi orang daerah Tegal sendiri

Kami diarahkan ke daerah Jl. Kapten Piere Tendean. Tiba di lokasi, ada beberapa rumah makan yang menawarkan menu sama dan plang rumah makan yang mirip. Ternyata PakSu jeli banget. Katanya banyak mobil plat G parkir di depan rumah makan Mekar ini. Berarti rumah makan ini yang jadi pilihan orang Tegal sendiri (feelingnya PakSu loh ya). Akhirnya sepakat semua dan jatuhlah pilihan kami ke rumah makan Mawar ini

Sekarang, setiap ngelewatin kota Tegal kalo pas jam makan siang pasti mampir ke mari. Seringnya bareng temen-temen

Kali ini kebetulan lagi bareng Ibu, Bapak, Adik dan keponakan 2U (mirip Upin Ipin hihi) pas nanti jam makan siang perkiraan bakalan sampe Tegal

Sekitar jam 11 an tinggal order pesenan lewat WA, lanjut telephone supaya WA nya dibaca 😂.
Saran saya sih pesen dulu, baru dateng. Biar nunggunya nggak kelamaan.


Kami minta nanti duduk di ruangan ber-AC yang ruangannya paling belakang. Tapi hari ini ruangan itu penuh disewa pegawai pemda.  Kami tetep dapet ruang ber-AC  tapi kursinya dari plastik

Btw rumah makan Mawar ini bentuknya aja kecil di depan, tapi begitu ke samping dan belakang bisa nampung orang banyak juga loh

Berikut menu yang kami pesan hari ini (191118).
- Teh Tawar 2 Rp. 2K
- Kopi 1 Rp. 4K
- Air Mineral 1 Rp. 4K
- Nasi Putih 5 Rp. 25K
- Jeruk Panas 2 Rp. 20K
- Cah Kangkung Polos (1 porsi) Rp. 11K
- Kelapa Muda Utuh 1 Rp. 12,K
- Capcay Kuah (1 porsi) Rp. 30K
- Cumi Besar Bakar (1 porsi) Rp. 45K
- Udang Goreng Tepung (1 porsi) Rp. 45K
- Ikan Kanang Bakar (7,5 ons) Rp. 82,5K

RM. Ikan Bakar / Sea Food "Mekar"
Jl. Kapten Piere Tendean 43- #Tegal
Telp. (0283) 351857 / 0878 3002 6521

Wonderful Indonesia yang Tersembunyi

Jadwal road trip Jakarta - Pagar Alam (Sumatera Selatan) dan sekitarnya bertepatan dengan Hari Kemerdekaaan RI ke-73. Walaupun konv...